06 Mei 2009

Akhlaqmu, barometer kemuliaanmu atas makhluk lainnya

"Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung"(QS Al-Qalam:4).

Jika ada pertanyaan: "Siapakah manusia yang paling mulia?".
Menurut Islam adalah Rosululloh Muhammad SAW. Allah SWT sendiri telah mempatenkan pengakuan tersebut di dalam Al-Qur'an Surat Al-Qalam ayat 4.

Jikalau pertanyaannya adalah: "Makhluk apakah yang paling mulia di dunia ini?". Maka jawabannya pasti manusia. Di manakah letak kemuliaan manusia tersebut?
Marilah kita bandingkan makhluk ( ciptaan ) Allah yang ada di dunia ini. Agar mudah, mari kita tentukan tolok ukurnya dalam 3 kategori, yaitu: material, phisik dan psikhis.

ad. a. Material.
Secara material, nilai zat-zat dan unsur yang membentuk tubuh manusia tidak begitu berharga apabila dibandingkan dengan material yang ada di alam, misalnya perak,emas, platina, intan, berlian, uranium, dsb. Hal ini berarti bahwa manusia itu mulia bukan karena anasir materi pembentuknya.

ad. b. Phisik.
Apabila ditinjau berdasarkan phisiknya, tumbuh-tumbuhan ternyata memiliki struktur tubuh yang berbeda-beda. Ada yang lebih besar, kuat dan pada umumnya mereka lebih tahan terhadap perubahan alam daripada manusia. Jenisnya juga lebih beragam. Apalagi bila dilihat dari manfaatnya bagi kehidupan di dunia ini, tumbuh-tumbuhan lebih banyak mendatangkan manfaat daripada mudharatnya. Binatang juga memiliki struktur tubuh yang beraneka pula. Di antaranya juga ada yang lebih besar, kuat dan lebih indah tubuhnya bila dibandingkan manusia. Bahkan sebagian binatang mempunyai kecepatan jauh melampaui kecepatan manusia. Ditinjau dari manfaatnya, binatang juga lebih banyak mendatangkan manfaat bagi kehidupan daripada mudharatnya. Misalnya binatang ternak, semakin besar dan gemuk akan semakin mahal harganya. Akan tetapi kalau peternaknya yang semakin besar dan gemuk tidak akan menambah harga 'jualnya'. Dalam hal phisikpun manusia tidak lebih mulia dari pada flora dan fauna.

ad.c. Psikhis.
Berdasarkan sudut pandang ini, manusia sudah lebih unggul apabila dibandingkan dengan material dan tumbuhan, karena kedua makhluk tersebut, anggap saja tidak mempunyai aktifitas psikhis. Bagaimana apabila dibandingkan dengan binatang?
Ada seorang ilmuwan Biologi ( maaf namanya saya lupa ) yang berkata: "Manusia itu adalah binatang yang bisa tertawa". Memang secara biologis hal itulah yang membedakan manusia dengan binatang. Secara emosional sebagian binatang juga memiliki perasaan. Secara kasat mata kita bisa melihat beberapa binatang kelihatan bersedih apabila kehilangan anggota keluarganya. Mereka akan marah apabila mereka atau anggota keluarga mereka diganggu. Mereka juga mempunyai naluri untuk mempertahankan keturunannya. Kebanyakan dari binatang instingnya juga lebih peka daripada manusia.
Berdasarkan naluri berketuhanan, manusia lebih unggul dalam hal beribadah kepada tuhan daripada syetan, akan tetapi manusia kalah jauh dalam hal ketaatan kepada Allah apabila dibandingkan dengan para malaikat.

Berdasarkan uraian di atas kita simpulkan bahwa berdasarkan tinjauan material, phisik dan psikhis ternyata manusia tidak lebih mulia daripada makhluk-makhluk Allah yang lainnya. Oleh karena itu kita wajib mempercayai ajaran agama Islam dan mungkin juga agama lainnya, bahwa manusia lebih mulia daripada makhluk Allah lainnya karena karunia akalnya.

Pertanyaannya sekarang adalah: " Mengapa banyak kasus menunjukkan bahwa kejahatan manusia, baik kepada dirinya, keluarganya, orang lain, masyarakat, bangsa dan negara, agama bahkan kepada dunia ini, juga disebabkan oleh hasil karya akal manusia? Apakah penyebabnya?

Manusia ditakdirkan Allah menjadi khalifah di muka bumi ini. Untuk melaksanakan amanah tersebut Allah sudah membekali manusia dengan berbagai fasilitas phisik maupun psikhis. Fasilitas phisik manusia mempunyai keterbatasan tertentu, tetapi fasilitas psikhisnya memiliki potensi yang tak terbatas. Salah satu potensi psikhis manusia berupa pemikiran. Hasil pemikiran manusia bahkan mampu menembus ruang dan waktu. Hasil pemikiran manusia akan terus berkembang sampai beberapa abad kemudian setelah dia tiada. Selain Allah sendiri, barangkali hanya ada satu yang mampu membatasi potensi psikhis manusia: 'waktu' ! yaitu batas umurnya di dunia ini dan juga batas umur dunia!.

Selain pikiran, potensi psikhis manusia yang luar biasa yang hampir menyamai pikiran adalah perasaan. Dengan perasaannya banyak manusia yang mampu menghasilkan mahakarya yang luar biasa. Banyak contohnya dalam sejarah dan tidak perlu disebutkan di sini.

Walaupun antara potensi psikhis manusia berupa pemikiran dan perasaan, sama-sama luar biasanya, tetapi di antara keduanya ada perbedaan yang menyolok. Pemikiran mendasarkan kebenarannya kepada logika yang mudah diterima oleh akal bagi sebagian besar manusia, sedangkan perasaan mendasarkan kebenarannya secara subyektif dan eksklusiv menurut dirinya sendiri atau kelompoknya. Dasar pemikiran inilah yang menjadi dasar pijakan untuk menjawab pertanyaan di atas tadi.

Semua kejahatan manusia baik kepada dirinya, keluarganya, orang lain, masyarakat, bangsa dan negara, agama bahkan dunia, dapat tercipta apabila manusia lebih mengutamakan dorongan pemuasan potensi perasaannya yang subyektif dan eksklusiv daripada potensi pemikirannya yang lebih logis.

Manusia akan menjadi makhluk paling mulia dan mampu menjalankan amanah Allah sebagai khalifah di bumi ini apabila mampu menjadikan akal dan pikirannya sebagai 'joki' atas 'kuda binal' perasaannya. Dan tidak ada yang mampu berbuat demikian kecuali manusia dengan akhlaq atau budi pekerti yang baik.

Islam adalah agama yang masuk akal, dan akan bisa dipahami dan diamalkan dengan baik oleh mereka yang mau dan mampu menggunakan akal dan pikirannya dengan sehat. Selama sejarah perjuangan Rosululloh di dalam menegakkan agama Islam beliau lebih banyak menggunakan pendekatan yang masuk akal. Dan apabila mukjizat Allah datang pada suatu saat dalam periode perjuangan beliau, itu semua karena Allah, bukan karena Nabi Muhammad dan Para Sahabat menjalankan ritual-ritual khusus untuk mendatangkan mukjizat itu.

Rosululloh Muhammad SAW bersabda: " Innamal buistu liutamimmaa makarimal akhlaq" , artinya: "Sesungguhnya aku ini di utus oleh Allah terutama untuk menyempurnakan akhlaq manusia".




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar