25 Mei 2009

Kunci Cinta Kasih II : Cinta itu memberi, bukan meminta, bukan juga menuntut apalagi memaksa".

Seorang sahabat Rosululloh bertanya kepada Nabi Muhammad SAW: "Ya Rosululloh, setelah Allah dan RosulNya, siapakah yang harus aku muliakan?" Jawab Rosululloh: "Ibumu". Sahabat tadi melanjutkan: "terus siapa lagi?' Jawab Beliau: "Ibumu". Begitu jawaban rosululloh sampai 3 kali, baru pada pertanyaan yang ke 4, Rosululloh menjawab: "Bapakmu". ( Al-Hadits ).


Kisah lain juga menegaskan kemuliaan seorang ibu:
Pada saat Nabi Muhammad SAW thawaf, di depan hajar aswad Beliau menjumpai seorang pemuda yang sedang thawaf juga. Pemuda tersebut pundaknya lecet berat sampai-sampai kulitnya mengelupas. Melihat hal tersebut beliau merasa iba kepada pemuda tersebut, kemudian Rosululloh bersabda: "Hai pemuda, mengapa pundakmu sampai lecet sedemikian parah?". Sang pemuda menjawab: "Wahai Rosululloh, aku mempunyai ibu yang sudah tua renta, karena aku khawatir terjadi hal-hal buruk apabila dia aku tinggalkan sendirian di rumah, maka kemanapun aku pergi, aku menggendongnya. Aku turunkan dia hanya apabila aku dan ibuku akan sholat atau buang hajat. Hal inilah yang menyebabkan pundakku lecet seperti ini". Mendengar cerita tersebut Rosululloh terharu sekali. Beberapa saat kemudian Rosululloh bersabda: " Hai pemuda sungguh mulia hatimu, semoga Allah menerima amalmu, tetapi ketahuilah wahai pemuda, sebesar apapun pengorbananmu kepada ibumu tidak akan mampu menebus semua pengorbanannya yang telah diberikan kepadamu". ( Al-Hadits ).

Seorang ibu dibandingkan ayah kemuliaannya adalah 3 kali lipat? Mengapa derajat ini disandang seorang ibu? Jawabannya adalah, seorang ibu yang benar-benar "normal keibuannya" akan memberikan Cinta Kasih kepada anaknya dengan setulus-tulusnya tanpa diembel-embeli prasarat apapun. Bahkan budaya kita mengabadikan kemuliaan seorang ibu dibanding anak di dalam sebuah pepatah: "Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah".

Marilah kita lantunkan sebuah lagu yang berlirik cinta kasih seorang ibu:
"Kasih ibu..kepada beta.., tak berhingga sepanjang masa...., hanya memberi tak harap kembali...bagaikan surya menyinari dunia".

Berdasarkan analog kedua hadits di atas, saya berani memastikan "Kunci Cinta Kasih II" adalah: "Cinta itu memberi, bukan meminta, bukan juga menuntut apalagi memaksa".

Para pembaca yang sedang jatuh cinta, buktikan cinta Anda dengan memberikan sesuatu kepada kekasih Anda. Tidak perlu mewah! Sebait puisi atau sepotong syair lagu dari kekasih, sering bernilai lebih dari sepotong baju. Setangkai mawar dari yang tersayang, berasa lebih membuat mabuk kepayang daripada sepasang giwang.

Sebagai contoh sewaktu kuliah dulu, aku pernah menggoda mahasiswi tetangga kostku. Dia cantik, ramah dan murah senyum. Setiap hari sering kami berpapasan di jalan. Suatu saat aku membutuhkan buku "Konseling Dasar" dan aku tahu dia punya buku tersebut. Aku memberanikan diri pinjam dan dia membolehkannya. Sewaktu buku mau aku kembalikan, 'ting!' muncul inspirasi di benakku. Buku tersebut aku ambil, bagian dalam halaman terdepannya kumasukkan ke mesin ketikku, lalu tertuanglah inspirasiku di halaman tersebut:

"Siang ini begitu gerah,
rasa di dada ini begitu gundah,
Tetapi di hatimu embun sejuk,
di hatimu tumbuh sejuta bunga.

Sejenak aku bertanya...itu untuk siapa?
dan adakah untukku juga?"

Saat itu aku sekedar menuangkan inspirasi tidak pernah memikirkan efeknya, karena hatiku kadung terikat janji dengan kekasihku, adik kelasku di SPG (Sekolah Pendidilan Guru).

Sebenarnya janjiku kepadanya sederhana: "Dik, aku mau kuliah S-1 di IKIP Malang. Selama 4 tahun di Malang, banyak kemungkinan terjadi pada saya dan sampeyan. Oleh karena itu, kalau sampeyan sabar menunggu ya Alhamdulillah, kalau tidak ya aku pasrah". Saat menjelang yudisium, aku mengirim surat sampul kuning bergambar mawar merah kepadanya ( maklum belum ada hp dan telpon rumah ). Aku bertanya: Apa sampeyan masih menungguku?". Dan ternyata dia menjawab: " Ya ya ya......". Mantan kekasihku itu sekarang sudah menjadi ibu dari 3 orang cucu dari ayah-ibuku dan ayah-ibu mertuaku.

Beberapa tahun berlalu, aku sudah mengajar di tempat dinasku sekarang. Salah seorang muridku bertanya: "Pak Wastu kenal namanya 'Masmh', rumahnya Jombang, Mojokerto?". Spontan kujawab: " kenal ". Muridku melanjutkan: "Dia itu bulik saya, sekarang tinggal bersama kami di Lumajang". Selanjutnya muridku berkata: "Dia belum menikah dan selalu menanyakan kabar bapak!".


Aku terkejut sekali, bagai tersambar petir di siang bolong. Rupanya tanpa kusadari puisiku telah membangkitkan harapan seseorang terhadapku. Aku merasa bersalah, karena saat muridku memberi info itu aku baru saja menikah. Oooh..... betapa kuatnya pengaruh kata-kata bagi orang yang merasa dicinta.


Wahai para pecinta. Berhentilah meminta, berhentilah menuntut dan berhentilah memaksa. Apalagi memaksa meminta sesuatu yang membuat si Dia menyesali perbuatannya seumur hidup.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar